Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 14 September 2015



Meresensi novel “laskar pelangi”

·         Identitas Buku:
Judul                              : perjuangan anak pulau belitung
Penulis                            : Andrea Hirata
Penerbit                         : Bentang
Kota Tempat Terbit        : Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta
Tahun Terbit                  : Cetakan III, Juli 2007
Tebal halaman                  : 533 halaman dan termasuk juga tentang penulis


·         Sinopsis
Novel LASKAR PELANGI ini  menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin diBelitung. Anak orang-orang ‘kecil’ ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan. Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern pada masanya, SD Muhammadiyah-sekolah penulis ini, tampak begitu menyedihkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.
Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin, gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras, sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.
Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.
Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak marjinal tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.
Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.
Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.
Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.
·         Latar Belakang Pengarang
Andrea Hirata lahir di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amatmenggemari sains (fisika, kimia, biologi, astronomi) dan tentu saja sastra. Edensor adalah novel ketiganya setelah novel – novel best seller Laskar Pelangi dan SangPemimpi. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademis dan backpaper. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di KyeGompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dariUniversitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa dari Uni Eropa untuk studi master of science di Universitas de Paris, Sorbonne, Prancis, dan Sheffield HallamUniversity, United Kingdom. Tesis Andra di bidang Ekonomi telekomunikasimendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude.Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teoriekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dam masih bekerja di kantor pusat PT Telkom. Hobinya naik komidi putar pandangan hidup pengarang Penulis adalah seorang yang optimis dan bersemangat dalam menjalani hidupnya,terutama dalam hal pendidikan. Ia selalu mendeskripsikan hidup sebagai suatu tantangan bagi penulis hidup teka-teki yang harus dicari jawabnya.

·         Keunggulan Novel
1.     Dalam hal organisasi, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain harmonis dan dapat menimbulkan rasa penasaran pembaca
2.    Kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah tokoh utama buku ini
3.    Bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit. kata yang kita tidak tahu maknanya dan yang belum dapat kita pahami, dikarenakan cerita menyesuaikan tempat daerah Belitong.
4.     memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin sukses dan berhasil.
·         Kelemahan Novel

1.     Bahasa yang digunakan tetap bahasa Indonesia tetapi tidak jarang kita jumpai bahasa daerah yang dimana tempat kejadiannya adalah Belitung, yaitu pulau terpencil yang ada di Sumatra. Sehingga mungkin sedikit membingungkan pembaca .


Jumat, 10 Januari 2014



kegiatan ospek dan champs

Tanggal 13 september, dimana disitu UISI Universitas Internasional Semen Indonesia  mengadakan kegiatan CHAMPS untuk mahasiswa baru yang ada di uisi. Sebelum diadakannya Champs abang eneng BEM adakan Ospekk.  Namun kita banyak pembelajaran yang mereka berikan mulai dari kedesiplinan dan lain-lain laah kalao bagi saya. Semua mahasiswa baru, panitia yang bersangkutan dan panitia atau yang disebut semua orang dengan kata BEM. Kita dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah kegiatan yang bermanfaat dan juga selalu membuat kita ceria, walaupun terkadang kita jenuh. Tetapiiiiii kakak BEM selalu semanggat mengurus kita terkadang BEM juga merasa kesal siiiih karena kejailan, kurang sopan dan bandel, itu yang saya sebutin jika dijadikan 100% pun yang aku sebutin hanya cuma sedikit sekitar 5% banyaknya 95% yang belom saya sebutin. terbayang doong gimana sabarnya abang eneng BEM diUniversitas Internasional Semen Indonesia.
Dan dalam kegiatan Ospekk juga Champs ini disitu kita di ajari untuk kedisiplinan, kebersamaan, kreatif dan kesabaran. Dimana mahasiswa diajarkan kedisplinan dari awal Ospekk agar kita bisa disiplin dalam keseharian kita dan bisa juga mengatur waktu. Dan kebersamaan dalam berkegiatan agar kegiatan yang dijalani bersama bisa berjalan lancar tanpa ada kesalah pahaman. begitu pula dalam kreatif pun diterapkan dalan ospek dan Champs ini, mulai dalam yang ditentukan maupun yang tidak ditentukan oleh panitia. dan kesabaran yang dialami panitia dan abang eneng BEM mulai dari kita yang bandel, susah diatur, perlengkapan yang salah, perlengkapan yang kurang atau tidak membawah laah, terlambat dan kurang sopanlaah banyak deeeh. Dengan kesalahan kita itu sendiri abang eneng BEM mengasih peringatan atau mengurangi nilai kita, semua itu bukan karena hanya ingin merendahan kita hanya seorang bawahan tapi kakak-kakak itu menggangap kita semua sebagai keluarga mereka sendiri dan menjadi bagian mahasiswa yang baru diUISI Universitas Internasional Semen Indonesia. Dengan hukuman kecil atau mengurangi nilai itu mereka ingin kita sebagai seorang yang bisa belajar disiplin dan belajar mematuhi yang apa yang sudah ditentukan oleh rektor UISI Universitas Internasional Semen Indonesia. Semua itu juga untuk kebaikan kita semua untuk menjadi MAHASISWA BANGGAAN DUNIA. Karena diUISI Universitas Internasional Semen Indonesia mendidik kita sebagai mahasiswa menjadi departemen yang unggul.
Hanya ini yang bisa saya sampaikan sat ini bila ingin tahu kelanjutannya liat blog ke two